Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sunday, 20 April 2014

Asal-Usul Suku Banjar Kalimantan Selatan


Suku Banjar adalah hasil pembaruan yang unik dari sejarah sungai-sungai Bahau, Barito, Martapura dan Tabanio. Suku bangsa Banjar sebagian besar ditempati wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur dan sebagian Kalimantan Tengah terutama kawasan dataran dan bagian hilir dari Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah tersebut.
Kawasan tersebut kemudian terpecah disebelah barat menjadi kerajaan Kotawaringin yang dipimpin Pangeran Dipati Anta Kasuma dan di sebelah timur menjadi kerajaan Tanah Bumbu yang dipimpin Pangeran Dipati Tuha yang berkembang menjadi beberapa daerah: Sabamban, Pegatan,Koensan, Poelau Laoet, Batoe Litjin, Cangtoeng, Bangkalaan, Sampanahan, Manoenggoel, dan Tjingal. Wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur merupakan tanah rantau primer.
Suku bangsa Banjar berasal dari daerah Banjar yaitu wilayah inti dari Kesultanan Banjar meliputi DAS Baritobagian hilir, DAS Bahan (Negara), DAS Martapura dan DAS Tabanio Di daerah ini suku bangsa Maanyan, Lawangan, Bukit dan Ngaju, dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Jawa, disatukan oleh tahta yang beragama Budha, Shiwa dan paling akhir oleh agama Islam dari kerajaan Banjar yang menumbuhkan suku bangsa Banjar yang berbahasa Banjar dan berkebdayaan Banjar.
Bahasa Banjar dan agama Islam dibwa pengaruh kekuasaan dinasti-dinasti banjar di Kayu-Tinggi, membulatkan daerah dan suku bangsa ini menjadi satu kesatuan wilayah suku Bangsa Dayak yang beragama Kaharingan atau Kristen tetap menyebut diri mereka orang Dayak, tetapi mereka yang memeluk agama Islam, berbahasa Banjar meninggalkan Bahasa ibu mereka, dan menyebut dirinya orang Banjar.
Pada zaman prasejarah agama orang Bukit, dalah agama balian dan agama Kaharingan pada suku bangsa Dayak tetap bertahan sampai sekarang dan pengaruh unsur-unsur religinya masih terasa dalam kebudayaan Banjar. Pada zaman negara Dipa dan negara Daha, masuk unsur-unsur agama Budha dan Ciwa. Yang masih ada sampai sekrang adalah sisa-sisa subasemen candi Agung dan candi Laras. Untuk candi Laras yang dibangun di atas Punden Tanah Liat Berundak Tiga ini jelas terdapat peninggaln-peninggalan Civaisme, sperti Lingga, Nandi, dn patung-patung yang sudah rusak dan tidak dapt diidentifikasikan lagi.
Ketika Belanda masuk, dengan cepat diusahakan gerakan zending dan missi di daerah Barito, pulau Patak, Tamiang Layang, dan Kuala Kapuas. Kebudayaan barat yang paking menentukan  pengaruhnya dari Belanda adalah berupa pendidikan Barat, ekonomi uang, hokum dan sebgaianya, di samping agama Kristen.
Suku banjar dibagi menjadi tiga bagian yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala). Hal ini karena adanya pendudukan asal Sumatera dan daerah sekitarnya yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan-terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku,

Banjar Pahuluan
Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara,  sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar Banjarmasin (dan Martapura). Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu Sumatera atau sekitarnya-, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa. Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkatBanjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukotadipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubahlagi.
Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota,masing-masing tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat Melayu ini memang hidup bertetangga tetapi, setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur. Jadi meskipun kelompoksuku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri.Untuk kepentingan keamanan, dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjarmembentuk komplek pemukiman tersendiri.Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan , yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya,dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya.Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit , yangpada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ininampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak zaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan.  Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut  membentuknya.

Banjar Batang Banyu.
Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbetuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yangmeliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalong. Selaku warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, sehinggamenjadi kelompok penduduk yang terpisah.Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku Dayak Maanyan dan Lawangan , sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsukuBatang Banyu,  di samping tentu sajaorang-orang asal Pahuluan yang pindah ke sana dan para  pendatang yang datang dari luar. Bila diPahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di antara pendudukBatang Banyu  yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.

Banjar Kuala.
Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjarmasin),  sebagian warga Batang Banyu(dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini dan, bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudah ada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar. Di kawasan ini mereka berjumpa dengan sukuDayak Ngaju, yang seperti halnya dengan dengan  masyarakatDayak Bukit dan masyarakat Dayak Maanyan atau Lawangan, banyak di antara mereka yang akhirnya meleburke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam. Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakandirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat  Pahuluan dan masyarakat Batang Banyubiasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.

Saturday, 19 April 2014

Sejarah HP (Handphone)

Sejarah+handphoneTelepon genggam atau handphone semakin menjamur dewasa ini seperti halnya dengan laptop atau komputer. Baik dari anak SD sampai dengan kakek-kakek sekarang menggunakan handphone untuk berkomunikasi. Tapi apakah ada yang tahu siapa penemu telepon genggam atau handphone itu sendiri ?? Sharing kali ini akan saya bahas tentang sejarah handphone atau telepon genggam.

Definisi
Telepon genggam atau handphone atau Telepon seluler adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap, namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel; wireless). Saat ini Indonesia mempunyai dua jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System for Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access). Badan yang mengatur telekomunikasi seluler Indonesia adalah Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI).

Sejarah
Menurut tante wiki indonesia Penemu sistem telepon genggam yang pertama adalah Martin Cooper, seorang pekerja di pabrikan Motorola pada tanggal 03 April 1973, walaupun sering disebut-sebut penemu telepon genggam adalah sebuah tim dari salah satu divisi Motorola (divisi tempat Cooper bekerja) dengan model pertama adalah DynaTAC. Ide yang dicetuskan oleh Cooper adalah sebuah alat komunikasi yang kecil dan mudah dibawa bepergian secara fleksibel.
Cooper bersama timnya menghadapi tantangan bagaimana memasukkan semua material elektronik ke dalam alat yang berukuran kecil tersebut untuk pertama kalinya. Akhirnya sebuah handphone pertama berhasil diselesaikan dengan total bobot seberat dua kilogram. Untuk membuatnya,  Pabrikan Motorola membutuhkan biaya kurang lebih US$1 juta. “Pada tahun 1983, telepon genggam portabel berharga US$4 ribu (Rp36 juta) setara dengan US$10 ribu (Rp90 juta).
Setelah berhasil memproduksi telepon genggam, tantangan terbesar berikutnya adalah mengadaptasi infrastruktur untuk mendukung sistem komunikasi telepon genggam tersebut dengan menciptakan sistem jaringan yang hanya membutuhkan 3 MHz spektrum, setara dengan lima channel TV yang tersalur ke seluruh dunia.
Tokoh lain yang diketahui sangat berjasa dalam dunia komunikasi selular adalah Amos Joel Jr yang lahir di Philadelphia, 12 Maret 1918, ia memang diakui dunia sebagai pakar dalam bidang switching. Ia mendapat ijazah bachelor (1940) dan master (1942) dalam teknik elektronik dari MIT. Tidak lama setelah studi, ia memulai kariernya selama 43 tahun (dari Juli 1940-Maret 1983) di Bell Telephone Laboratories, tempat ia menerima lebih dari 70 paten Amerika di bidang telekomunikasi, khususnya di bidang switching. Amos E Joel Jr, membuat sistem penyambung (switching) ponsel dari satu wilayah sel ke wilayah sel yang lain. Switching ini harus bekerja ketika pengguna ponsel bergerak atau berpindah dari satu sel ke sel lain sehingga pembicaraan tidak terputus. Karena penemuan Amos Joel inilah penggunaan ponsel menjadi nyaman.

Perkembangan
  • Generasi awal
Sejarah penemuan telepon seluler tidak lepas dari perkembangan radio. Awal penemuan telepon seluler dimulai pada tahun 1921 ketika Departemen Kepolisian Detroit Michigan mencoba menggunakan telepon mobil satu arah. Kemudian, pada tahun 1928 Kepolisian Detroit mulai menggunakan radio komunikasi satu arah pada semua mobil patroli dengan frekuensi 2MHz.
Pada perkembangan selanjutnya, radio komunikasi berkembang menjadi dua arah dengan ‘’frequency modulated ‘’(FM).
Tahun 1940, Galvin Manufactory Corporation (sekarang Motorola)mengembangkan portable Handie-talkie SCR536, yang berarti sebuah alat komunikasi di medan perang saat perang dunia II. Masa ini merupakan generasi 0 telepon seluler atau 0-G, dimana telepon seluler mulai diperkenalkan.
Setelah mengeluarkan SCR536,kemudian pada tahun 1943 Galvin Manufactory Corporation mengeluarkan kembali partable FM radio dua arah pertama yang diberi nama SCR300 dengan model backpack untuk tentara U.S. Alat ini memiliki berat sekitar 35 pon dan dapat bekerja secara efektif dalam jarak operasi 10 sampai 20 mil.
Sistem telepon seluler 0-G masih menggunakan sebuah sistem radio VHF untuk menghubungkan telepon secara langsung pada PSTNlandline. Kelemahan sistem ini adalah masalah pada jaringan kongesti yang kemudian memunculkan usaha-usaha untuk mengganti sistem ini.
Generasi 0 diakhiri dengan penemuan konsep modern oleh insinyur-insinyur dari Bell Labs pada tahun 1947. Mereka menemukan konsep penggunaan telepon hexagonal sebagai dasar telepon seluler. Namun, konsep ini baru dikembangkan pada 1960-an.
  • Generasi 1
Telepon genggam generasi pertama disebut juga 1G. 1-G merupakan telepon genggam pertama yang sebenarnya. Tahun 1973, Martin Cooper dari Motorola Corp menemukan telepon seluler pertama dan diperkenalkan kepada public pada 3 April 1973. Telepon seluler yang ditemukan oleh Cooper memiliki berat 30 ons atau sekitar 800 gram. Penemuan inilah yang telah mengubah dunia selamanya. Teknologi yang digunakan 1-G masih bersifat analog dan dikenal dengan istilah AMPS. AMPS menggunakan frekuensi antara 825 Mhz- 894 Mhz dan dioperasikan pada Band800 Mhz. Karena bersifat analog, maka sistem yang digunakan masih bersifat regional. Salah satu kekurangan generasi 1-G adalah karena ukurannya yang terlalu besar untuk dipegang oleh tangan. Ukuran yang besar ini dikarenakan keperluan tenaga dan performa baterai yang kurang baik. Selain itu generasi 1-G masih memiliki masalah dengan mobilitas pengguna. Pada saat melakukan panggilan, mobilitas pengguna terbatas pada jangkauan area telpon genggam.
  • Generasi 2
Generasi kedua atau 2-G muncul pada sekitar tahun 1990-an. 2G di Amerika sudah menggunakan teknologi CDMA, sedangkan di Eropa menggunakan teknologi GSM. GSM menggunakan frekuensi standar 900 Mhz dan frekuensi 1800 Mhz. Dengan frekuensi tersebut, GSM memiliki kapasitas pelanggan yang lebih besar. Pada generasi 2G sinyal analog sudah diganti dengan sinyal digital. Penggunaan sinyal digital memperlengkapi telepon genggam dengan pesan suara, panggilan tunggu, dan SMS.
Telepon seluler pada generasi ini juga memiliki ukuran yang lebih kecil dan lebih ringan karena penggunaan teknologi chip digital. Ukuran yang lebih kecil juga dikarenakan kebutuhan tenaga baterai yang lebih kecil. Keunggulan dari generasi 2G adalah ukuran dan berat yang lebih kecil serta sinyal radio yang lebih rendah, sehingga mengurangi efek radiasi yang membahayakan pengguna.
  • Generasi 3
Generasi ini disebut juga 3G yang memungkinkan operator jaringan untuk memberi pengguna mereka jangkauan yang lebih luas, termasuk internet sebaik video call berteknologi tinggi. Dalam 3G terdapat 3 standar untuk dunia telekomunikasi yaitu Enhance Datarates for GSM Evolution (EDGE), Wideband-CDMA, dan CDMA 2000. Kelemahan dari generasi 3G ini adalah biaya yang relatif lebih tinggi, dan kurangnya cakupan jaringan karena masih barunya teknologi ini. Tapi yang menarik pada generasi ini adalah mulai dimasukkannya sistem operasi pada ponsel sehingga membuat fitur ponsel semakin lengkap bahkan mendekati fungsi PC. Sistem operasi yang digunakan antara lain Symbian, Android dan Windows Mobile
  • Generasi 4
Generasi ini disebut juga Fourth Generation (4G). 4G merupakan sistem ponsel yang menawarkan pendekatan baru dan solusi infrastruktur yang mengintegrasikan teknologi nirkabel yang telah ada termasuk wireless broadband (WiBro), 802.16e, CDMA, wireless LAN, Bluetooth, dan lain-lain. Sistem 4G berdasarkan heterogenitas jaringan IP yang memungkinkan pengguna untuk menggunakan beragam sistem kapan saja dan di mana saja. 4G juga memberikan penggunanya kecepatan tinggi, volume tinggi, kualitas baik, jangkauan global, dan fleksibilitas untuk menjelajahi berbagai teknologi berbeda. Terakhir, 4G memberikan pelayanan pengiriman data cepat untuk mengakomodasi berbagai aplikasi multimedia seperti, video conferencing,online game, dan lain-lain.

Monday, 7 April 2014

Sejarah Kota Balikpapan

Sejarah Kota Balikpapan

Awalnya Balikpapan adalah tempat persinggahan pedagang-pedagang dari Banjar (Banjarmasin) yang akan menuju ke Kalimantan bagian timur. Pedagang asal Banjar tersebut membawa dagangan seperti beras, kain, garam, dan lainnya. Saat singgah, mereka menemukan sesuatu di sepanjang pesisir pantai Balikpapan. Ada banyak cairan hitam kecoklatan yang mengalir dari tanah di pesisir pantai Balikpapan. Cairan hitam yang mudah terbakar itu diambil oleh para pedagang untuk dijual/sebagai bahan bakar. Lama kelaman mereka tidak hanya singgah di Balikpapan, tetapi akhirnya menetap dan membuat sebuah kampung. Kampung tersebut dinamakan ‘Kampung Baru’. Letaknya di dekat Pulau Tukung.
pulau tukung balikpapan
Pulau Tukung Balikpapan
Dinamakan Kampung Baru karena di kampung ini mereka menetap dan memulai hidup baru. Penduduk pertama Kampung Baru ini kebanyakan adalah pedagang-pedagang dari Banjar dan Sulawesi. Penduduk pertama Kampung Baru ini kebanyakan adalah pedagang dari Banjar dan Sulawesi. Keberadaan lantung/cairan minyak di pesisir pantai Balikpapan kemudian diketahui oleh Belanda.

Di tahun 1890 Belanda membeli daerah sekitar pesisir pantai Balikpapan dari Kesultanan Kutai. Konon kandungan minyak bumi di Balikpapan saat itu adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Maka dilakukanlah pengeboran pertama kali oleh Belanda pada tanggal 10 Februari 1897. Awal tahun 1900 dibangunlah instalasi pengolahan kilang minyak Balikpapan oleh Belanda. Pembangunan kilang tersebut membuat Kampung Baru harus tergusur ke sebelah utara kilang. Selain membangun kilang, Belanda jg membangun fasilitas pendukung lainnya. Dibangunlah perumahan dengan gaya khas Eropa di Gn.Dubbs. Dibangun pula fasilitas seperti lapangan bola (sekarang lapangan merdeka), tempat hiburan (sekarang banua patra).
Lapangan Merdeka Balikpapan
Lapangan Merdeka Balikpapan
Dibangun pula fasilitas seperti rumah sakit, sekolah. Belanda jg mendatangkan tenaga kerja untuk kilang dari berbagai daerah seperti dari jawa dan sulawesi. Inilah sebabnya kenapa penduduk Balikpapan saat ini terdiri dari berbagai macam suku. Indonesia mini.
Di tahun 1930an ada sebuah perkampungan utk pedagang-pedagang cina. Letaknya di depan Monpera sekarang.
Monpera
Monpera
Diseberang perkampungan cina tersebut ada sebuah pasar. Pasar tersebut melengkapi dua pasar yang sudah ada sebelumnya. Pasar Klandasan dan pasar di kampung baru.
Pasar Klandasan
Pasar Klandasan
Di thn 1930an ada dua rumah sakit. Rumah sakit BPM (sekarang rumah sakit Pertamina) dan rumah sakit Juliana (skr jd SMP swasta).
Rumah Sakit Pertamin
Rumah Sakit Pertamina
Perkampungan ada di kampung baru dan klandasan. Sedangkan daerah gunung sari dulunya masih hutan. Daerah gunung sari dulu hanya jalan setapak. Hanya ada satu kampung kecil disana. Penduduk yang tinggal di kampung gunung sari adalah penduduk yang enggan membayar pajak kepada Belanda. Perkampungan cina yg ada di dpn Monpera td kemudian pindah ke daerah Pandan Sari.  Orang-orang Belanda hidup sangat ekslusif. Tidak mau membaur dengan pribumi. Termasuk dalam hal pendidikan. Dulu ada beberapa sekolah khusus untuk orang-orang Belanda di Balikpapan. Namun hanya ada satu sekolah untuk pribumi. Sekolah tersebut hanya tingkat dasar. Sedangkan untuk melanjutkan ke tingkat lebih tinggi harus ke Banjarmasin.
Jalanan di Balikpapan dulu masih sempit. Hanya selebar 2 hingga 3 meter. Dulu di kilang minyak Balikpapan ada transportasi kereta. Khusus untuk pekerja-pekerja kilang. Perkembangan kilang minyak Balikpapan sangat pesat. Puluhan kapal mengangkut minyak bumi ke negara-negara Eropa. Tak heran, beberapa negara mengincar kota Balikpapan dengan kekayaan minyaknya. Salah satunya : Jepang. Jepang sangat mengincar kota Balikpapan. Dikirimlah mata-mata ke Balikpapan yg menyamar sebagai pedagang. Mata-mata Jepang tersebut mendata pos-pos pertahanan Belanda. Dan juga kekuatan pasukan Belanda. Pada tanggal 18 Januari 1942 Belanda menerima ultimatum dari Jepang untuk menyerahkan kota Balikpapan. Ultimatum tersebut tidak digubris oleh pihak Belanda di Balikpapan. Mereka lebih memilih melawan daripada menyerah.
Pada tgl 22 Januari 1942, dibawah pimpinan Jendral Shizuo Sakaguchi, Jepang menyerang Balikpapan. Sesampainya di Balikpapan, Jepang terkejut. Karena kilang minyak sudah dihancurkan terlebih dahulu oleh Belanda. Jepang yg dongkol karena hanya mendapat abu dan arang, kemudian menyerang Belanda ke berbagai penjuru Balikpapan. Terjadi pertempuran sengit di Balikpapan. Dentuman peluru, aroma mesiu, dan asap hitam membumbung. Jepang yg terkenal kejam tanpa ampun membunuh setiap orang Belanda yang ditemuinya. Ada sebuah kisah memilukan saat tentara Jepang menyisir daerah Gunung Pancur. Untuk mencari jenderal Belanda.  Ada 3 petinggi Belanda dan keluarganya yg terjebak di perumahan di gunung pancur. Mereka mencoba melawan saat tentara Jepang memergoki mereka. Namun naas, akhirnya 3 keluarga tsb dibantai oleh Jepang. Itulah mengapa 3 rumah di gunung pancur yg jadi tempat pembantaian tsb sampai skr terkenal angker. Penyisiran mencari org2 Belanda oleh tentara Jepang berlanjut hingga ke sebuah markas tentara Belanda. Markas tsb terletak di daerah gunung sari. Bangunan markas tsb smpat difungsikan sbg rmh sakit.  Markas tsb juga dikenal sbg Puskib. Bangunannya skr sdh dibongkar.
Puskib
Puskib
Saat tentara Jepang dtg utk mencari orang-orang Belanda, ada satu dokter pribumi disana. Dokter tsb sedang mengobati bbrp tentara Belanda yg terluka. Melihat hal tsb, tentara Jepang murka. Kemudian diculiklah dokter bedah pribumi satu-satunya tersebut. Kemudian dibunuh. Dokter bedah tsb bernama dr.Kanudjoso Djatiwibowo. Namanya skr dijadikan nama Rumah Sakit Umum.

RSU Balikpapan
Ada satu orang Belanda yg lolos dlm penyisiran oleh tentara Jepang tsb. Namanya Jan Theo Van Amstel. Jan Theo Van Amstel adalah seorang Belanda yg berbeda dari org Belanda kebanyakan. Jan Theo Van Amstel berkulit agak hitam. Persis sekali seperti pribumi. Ketika lolos dari penyergapan tentara Jepang, ia kemudian membaur dgn pribumi lainnya.
Jan Theo Van Amstel ini adalah saksi mata peristiwa pembantaian jendral-jendral Belanda di pantai banua patra. Suatu pagi di tanggal 23 Februari 1942, ia bersama org2 kampung dibawa ke pantai banua patra. Di pantai banua patra tsb mereka dipaksa melihat pembantaian 78 org Belanda. Jan Theo Van Amstel dlm kesaksian menuliskan, ia melihat jendral-jendral Belanda, pastur. Dlm keadaan terikat. Kemudian satu persatu jendral2 tsb ditembak oleh tentara Jepang. Beberapa dipenggal kepalanya. Setelah itu Jan Theo Van Amstel dikabarkan melarikan diri ke Makassar. Menumpang kapal nelayan. Masa penjajahan Jepang di Balikpapan tdk berlangsung lama. Perang Dunia ke II kemudian meletus. Pada tanggal 7 Juli 1945. Sekutu datang ke Balikpapan utk berperang melawan Jepang. Perang ini ada dlm sejarah. Sekutu yg terdiri dari tentara Australia mendarat di perairan Klandasan. Tepat di pantai Monpera skrg. Perang tsb tdk berlangsung lama. Tgl 21 Juli 1945 Jepang menyerah kalah di Balikpapan.
Pasukan tentara Australia kemudian ditugaskan utk memelihara tatanan masyarakat Balikpapan pasca perang. Ratusan tentara Australia gugur dlm pertempuran melawan Jepang di Balikpapan. Utk mengenang peristiwa tsb, tahun 1945 tentara Australia membuat tugu peringatan di dkt lapangan merdeka. Tugu tersebut kita kenal dgn Tugu Australia. Proklamasi kemerdekaan akhirnya berkumandang di Jakarta tgl 17 Agustus 1945. Namun karena minimnya sarana komunikasi, kabar proklamasi ini telat diketahui oleh masyarakat Balikpapan. Baru pada sekitar bln november 1945, kabar proklamasi kemerdekaan ini sampai di Balikpapan.  Namun, tidak serta merta hal tsb membuat Balikpapan bebas dari penjajah.  Belanda yg membonceng sekutu Australia wkt itu ingin menjajah Balikpapan kembali. Kalimantan,khususnya Balikpapan wkt itu memang dlm status quo. Artinya blm msk ke wilayah NKRI.  Berbagai pertempuran pecah di Balikpapan antara kaum pejuang pribumi dan tentara Belanda. Selain mengangkat senjata, bbrp pemuda Balikpapan mendirikan perkumpulan. Perkumpulan yg kemudian menjadi partai politik pertama di Balikpapan adalah Fonds Nasional Indonesia (FONI). Di masa awal terbentuknya organisasi ini, mereka mengadakan pasar malam utk menghimpun dana perjuangan. Pasar malam itu diselenggarakan di lapangan sepakbola pandan sari (skr lapangan FONI).
Gerakan perjuangan gerilya pejuang Balikpapan melawan Belanda trs dilakukan. Hingga pada suatu ketika. Tgl 10 Desember 1946, Belanda mengumpulkan semua pribumi di lapangan FONI. Belanda berniat menghabisi seluruh pribumi tsb. Tetapi peristiwa pembantaian itu urung terjadi. Seorang komandan yg ditugasi menjaga keamanan Balikpapan bernegosiasi dgn Belanda. Komandan itu membujuk Belanda spy tdk membantai kaum pribumi. Krn akan berdampak pada banyak hal. Terutama kilang. Berkat negosiasi dr komandan tsb, tdk terjadi pembantaian di Balikpapan. Komandan tsb bernama Wiluyo Puspoyudo. Namanya skr dijadikan nama sebuah taman di dekat rumahnya dulu.
Perlawanan thd Belanda trs dilakukan. Dgn pertempuran dan perundingan-perundingan. Pada tanggal 27 Desember 1949, Balikpapan resmi masuk ke dalam Republik Indonesia Serikat. Setahun kemudian, Presiden Soekarno datang ke Balikpapan. Dgn pidato khasnya, beliau menyemangati masy.Balikpapan. Sejak itulah kemudian masyarakat Balikpapan mulai membangun kotanya.  Pd tanggal 20 Januari 1960, Aji Raden Sayid Muhammad dilantik menjadi Walikota Balikpapan yg pertama. Dan salah satu yg menjadi ciri khas kota Balikpapan yaitu kilang minyak, trs berproduksi hingga skrg.

Sejarah Bulungan

Bung Karno hendak di asingkan ke Bulungan, Mitos atau Fakta?


Ada sebuah legenda atau munkin juga mitos dikalangan masyarakat bulungan, khususnya para tetua dulu, ada yang berkisah sebelum Bung Karno hendak di asingkan ke Ende,  Kolonial Belanda mau menempatkan almarhum di Bulungan, namun urung dilakukan karena ada sesuatu dan lain hal, konon ketidak cocokan penguasa Bulungan dengan  Bung karno merupakan salah satu sebabnya.

Sudah lama sekali kisah seperti ini aku dengar, memang agak sulit menemukan sumber aslinya, dan hal ini sejujurnya masih perlu di selidiki lebih lanjut, kisah rencana pengasingan Bung Karno ke Bulungan memang menarik, karena batasan antara fakta dan mitos cukup kental

Namun satu hal yang pasti, jika kita menelusuri sikap Bung Karno, khususnya setelah penyerahan kedaulatan Bulungan ke pangkuan RI, saat itu dikisahkan Bung  Hatta sempat mengunjungi Tarakan dan serta Nunukan, tapi beliau ternyata justru tidak di utus ke istana Sultan yang berkedudukan di Tanjung Palas, padahal jaraknya tidaklah terlalu jauh, kisah kunjungan Bung Hatta sendiri terjadi sekitar tahun 1949-1950, barulah kemudian utusan resmi RI mengunjungi tanjung palas di wakili Madju Urang yang waktu itu menjabat sebagai wakil pemerintah untuk kalimantan Timur.

Bukan bermaksud memulai teori konspirasi, tapi mungkin tak ada salahnya jika kita bertanya-tanya, apakah Bung Karno memiliki memory pribadi tentang Bulungan? apakah penolakan tersebut memiliki arti sendiri di mata Bung Karno? benarkah pemerintah belanda memiliki salinan dokumen tentang rencana pengasingan di Bulungan? dan apakah Bung karno tau tentang peristiwa jatuhnya istana Bulungan?. apapun itu, mitos atau legenda mengenai Bung karno memang tak banyak yang mengetahui, walaupun memory kolektif masyarakat Bulungan sampai hari ini masih mencatatnya dalam ingatan mereka, walaupun si empunya cerita mungkin satu persatu sudah tidak ada lagi di dunia ini. (zee)


Hikayat Daerah Istimewa Bulungan

(Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, Kepala Istimewa Daerah Bulungan yang pertama sekaligus yang terakhir)

Bicara tentang sejarah lawas modern Bulungan, khususnya mengenai sejarah Daerah Istimewa Bulungan dimasa lampau, tak banyak memang generasi muda yang mengenalnya.

Hikayat mengenai sejarah Daerah istimewa bulungan memang tak dapat dilepaskan dari peran Kesultanan bulungan yang gigih mendukung kemerdekaan Indonesia, karena memang pada faktanya status daerah Istimewa bukan diminta, namun diberi oleh negara Republik Indonesia melalui persetujuan pemerintah pusat.

Dalam catatan sejarah Bulungan, kepala daerah pertama sekaligus terakhir adalah Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, beliau adalah seorang tokoh sejarah yang telah melewati tiga masa sekaligus yaitu zaman belanda, zaman jepang dan era kemerdekaan.

Sultan Muhammad Djaluddin beserta para mentri Khususnya Datuk Bendahara paduka Raja, begitu gigih melawan kehendak belanda di bulungan melalui jalaur diplomasi, dalam sejarah Bendahara Paduka raja atas mandat Sultan Muhammad Djalaluddin – beliau memang tidak disenangi oleh kolonial belanda,- menjalin hubungan rahasia dengan Sultan Gunung Tabur dan Sambaliung di berau untuk mendukung penuh kemerdekaan indonesia, namun pihak kompeni ternyata tak berani menghalangi dengan tegas manuver politik beliau.

(Kantor Kepala Daerah Istimewa Bulungan dalam kenangan)

Demikan pula di tingkatan “akar rumput”, para tokoh pergerakan tak tinggal diam demi menyukseskan integrasi kesultanan bulungan sebagai bagaian dari NKRI tercinta yang kemudian hasil berbuah pada penyatuan Bulungan sebagai bagian dari bangsa indonesia pada 17 Agustus 1949.

Peristiwa ini sendiri digambarkan dengan apik dalam sebuah memorie yang ditulis mengenai kondisi pada saat itu: De anti Nederlandse geest breidde ini de voornaamste gebieden van dit gewest zicht zoodaning uit, dat hetbestuur ijverde voor de invoering van corlog …, de verkiezing van afgvaardigden voor ee Boerneo conferentie word een totale mislukking on kregan de enkele gekezen afgevaardigden Als mandaat mede de aansluiting hij de republik. (semangat anti Belanda telah tersebar luas di daerah ini, sehingga pemerintah berusaha untuk memberlakukan dalam keadaan perang …, Pemilihan utusan ke konfrensi pembentukan negara kalimantan gagal total, karena beberapa utusan yang terpilih memperoleh mandat pengabungan dengan Republik).

Peristiwa ini manjadi era penting masa transisi pemerintahan Kesultanan Bulungan yang telah mengakar berabad lamanya. Setelah bergabung dengan RI, posisi Kesultanan Bulungan sebagai wilayah swapraja dimantapkan melalui surat Keputusan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 186 / ORB / 92 / 14 tertanggal 14 Agustus 1950 yang kemudian disahkan menjadi UU Darurat 3 / 1953 dari pemerintah Negara RI. Kemudian wilayah Bulungan berdasarkan UU N0. 22 /1948 menjadi Daerah Istimewa Bulungan. Keputusan itu membuat Sultan Djalaluddin dimandatkan oleh negara Republik Indonesia menjadi Kepala Daerah Istimewa yang pertama sekaligus yang terakhir hingga akhir hayatnya tahun 1958.

Dimasa transisi pemerintahan seperti ini, kerena tak memiliki gedung pemerintahan yang memadai, Kepala Daerah istimewa saat itu, maulana Muhammad Djalaluddin kemudian menetapkan istana Bulungan yang tinggkat dua itu sebagai gedung kepala daerah istimewa dimana semua kegiatan pemerintahan dipusatkan di istana, jadi sesungguhnya sistem satu atap dalam pola pemerintahan sejarah modern Bulungan memang bukan hal yang baru.

Masyarakat Bulungan memang dikenal cukup terbuka dengan hal-hal baru demikian dengan berorganisasi dan politik, menariknya walau telah lama hidup dalam suana kesultanan yang memang masih bernuansa monarky namun Sultan tak pernah menggunakan hak dan kekuasaannya untuk melarang rakyatnya dalam kegiatan politik praktis, perubahan yang mulus menang tak lepas kepemimpinan akhir Sultan Djalaluddin yang kharismatik. Menariknya pemerintah pusat sendiri baru berani mencabut status hal istimewa Bulungan setelah almarhum berpulang ke rahmatullah pada tahun 1958.

(pengaruh belanda makin terkikis setelah penyerahan kedaulatan dan masuknya Kesultanan Bulungan secara sah kepangkuan NKRI)

Setahun kemudian tepatnya setelah UU Nomor 27 tahun 1959 disahkan, berakhirlah status daerah istimewa Bulungan. Sebelumnya telah dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat pertama di Bulungan yang diketuai oleh Muhammad Zaini Anwar (1955-1959). Pada tanggal 12 oktober 1960, dilantik Bupati pertama Bulungan Andi Tjatjo Gelar Datuk Wiharja (1960-1963) yang juga masih kerabat Kesultanan Bulungan. Dimasa beliau ini Ibu kota Kabupaten Bulungan di pindah dari Tanjung Palas ke tanjung Selor.

Bukti sejarah Daerah Istimewa Bulungan

Sama seperti banyaknya sejarah yang terlupa, era transisi dari Monarky ke Republik yang juga di tandai masa sebagai daerah Istimewa dalam sejarah modern Kabupaten Bulungan ternyata tak banyak diketahui dan didokumentasi dengan baik.

Kita kehilangan banyak memory mengenai sejarah Daerah istimewa Bulungan tanpa melihat bukti nyata bahwa sejarah yang mengagumkan itu ada. Jatuhnya istana Bulungan di tahun 1964 menambah catatan panjang kehilangan memory kolektif mengenai masa yang singkat namun penting ini.

Umumnya sejauh yang dapat dipaparkan oleh banyak nara sumber yang saya temui, umumnya mereka mengatakan bukti sejarah tersebut dapat merujuk pada foto-foto peninggalan bersejarah berupa istana tingkat dua yang sempat menjadi kantor kepala daerah Istimewa bulungan waktu itu, sejauh ini itu saja bukti yang umumnya dapat tunjukan. Bukti-buki fisik lain berupa palang nama daerah istimewa Bulungan pun beserta istana yang telah disebut tadi sudah tak ada lagi rupanya.

Pun demikian pula dokumen-dokumen dan surat-surat penting di istana, sulit untuk untuk menemukannya karena memang bisa jadi sudah tercerai berai dan sebagaian tak lagi dapat di baca. Ada kah bukti-bukti lain yang dapat menjalaskan kepada generasi mendatang kita bahwa Daerah Istimewa Bulungan itu memang pernah ada?

(Dokumen sejarah 15 Djuli 1951, dokumen penting sejarah Daerah Istimewa Bulungan)

Penelusuran saya mengenai sejarah Daerah Istimewa Bulungan, cukup panjang riwayatnya, kesulitan menemukan bukti fisik tersebut merupakan kendala utama saat itu.

Saya beruntung pada saat melakukan penelitian mengenai sejarah Mesjid Al-Kaff di kampung arab, secara tak sengaja saya menemukan bukti berharga sejarah yang terawetkan dengan baik oleh tangan-tangan dingin yang menjaganya beberapa puluh tahun lamanya.

Kepada Said Mohammad Al-Jufri, saya patut berterimaksih pada beliau karena mengizinkan saya melihat dan menyimpan copy dari sebagain dokumen penting mengenai sejarah mesjid tertua di Tanjung Selor itu. Salah satu dokumen tersebut bertanggal 15 Djuli 1951. Dokumen ini dibuat sezaman dengan masa Daerah Istimewa Bulungan!

Saya tertegun sewaktu membaca dokumen lawas yang kertasnya sudah buram namun tulisannya masih dapat terbaca dengan baik tersebut. Bagaimana tidak, walaupun isinya menyangkut perluasan mesjid Al-Kaff, namun terlihat jelas surat tersebut direkomensaikan langsung oleh Kepala Daerah Istimewa Bulungan, lengkap dengan cap stempel kepala Daerah Istimewa dan cap stempel Wedana Tandjung Selor.

Dalam dokumen tersebut tertulis nama “M. Mohd. Djalaluddin”, selaku Kepada Daerah Istimewa, “M. D. Purwo Nata”, sebagai Wedana Tandjung Selor, bersama “M. Godal” yang tak lain adalah Kyai Mahfud Godal dan “Enci Chairul Alil” sebagai ketua I dan dan Penulis I dalam pengesahan surat tersebut. belum lagi ejaan yang digunakan, tampak jelas masih menggunakan ejaan lama, saya sempat membandingkan dengan dokumen sejarah yang saya miliki, dokumen itu merupakan copy dari sejarah bulungan yang di tulis oleh Datuk Perdana, kemiripan ejaannya sama, artinya surat itu memang ditulis sekitar tahun 1950-an.

(perhatikan baik-baik cap stampel dalam dokumen tersebut, terlihat jelas tulisan Daerah Istimewa Bulungan, pun lihat juga nama dalam tanda tangan tersebut, M. Mohd. Djalaluddin, Sultan Bulungan terakhir dan Kepala Daerah istimewa Bulungan).

Dokumen ini menjadi bukti penting mengenai sejarah Daerah istimewa Bulungan yang tak terbantahkan dan terawat dengan baik. Sulit bagi saya menyembunyikan rasa gembira dan syukur saat menemukan dokumen bercap stempel tersebut, karena sekali lagi kita akhirnya dapat menemukan bukti sejarah tertulis mengenai sejarah Daerah Istimewa Bulungan yang sebelumnya hanya saya dengar tanpa saya melihat langsung bukti fisik dan dokumen yang menyertainya. Lebih jauh kita memang dapat membuktikan bahwa sejarah Daerah Istimewa Bulungan itu memang benar-benar ada bukan sekedar isapan jempol belaka!.


Hikayat Jas dan Songkok Dalam Lintasan Sejarah Bulungan


Salah satu hal yang gemar saya perhatikan dalam foto-foto tua yang buram mengenai kesultanan dan masyarakat Bulungan tempo dulu adalah style pakaiannya. Apa bila kita perhatikan lebih jauh mayoritas dalam foto-foto tua itu kebanyakan khususnya para lelakinya mengenakan songkok, benda ini hampir tak pernah lepas dari kepala tiap lelaki bulungan pada masa itu.

Foto lain juga yang saya perhatikan adalah penggunaan jas, gagah bukan main mereka menggunakan jas tersebut apa lagi di padu dengan songkok, tak beda jauh dengan foto-foto Bung Karno saat masih muda dulu. Pernyataan yang kemudian yang mengena di hati saya adalah kapan songkok dan jas digunakan dalam kehidupan masyarakat dan elit kesultanan bulungan tempo dulu.

Makna jas dan songkok dalam sejarah Bulungan.


Berbicara mengenai songkok maupun jas, berarti berbicara mengenai perlambangan atau syimbol-syimbol keterbukaan masyarakat Bulungan terhadap budaya luar yang kemudian menjelma menjadi identitas masyarakat maupun elit sosial dimasanya. Kedua syimbol ini menyiratkan mengenai jalinan sejarah mengenai interaksi budaya timur dan barat dalam tradisi Bulungan.

Songkok kapan sebenarnya masuk dan menjadi identitas dalam masyarakat bulungan? Tak banyak yang tahu pasti hal tersebut, namun diperkirakan songkok mulai menyebar di Bulungan sejalan era awal terbukanya perdagangan di Tanjung Selor, interaksi budaya dan agama, menyebabkan songkok yang dibawa oleh masyarakat Melayu, Banjar dan Bugis maupun orang arab dengan peci putih dan torbuznya pada abad ke-18 dan meraih momentum pada abad ke-19, sangat mungkin menjadi landasan mengapa songkok menjelma menjadi identitas dalam masyarakat Bulungan.


Tentu saja yang juga tak dapat dilupa adalah dimasa-masa awal kesultanan Bulungan, songkok tak dikenal, melainkan tutup kepala berupa kain yang dililit dikepala, kain ini umumnya berwarna kuning gading.

Faktor-faktor penting yang juga adalah songkok adalah syimbol-syimbol tradisi yang erat kaitannya dengan agama Islam, ini pula yang memudahkan jalan bagi songok menjadi identitas tidak hanya pada tingkatan akar rumput (masyarakat) namun juga tingkatan elit kesultanan Bulungan, bahkan menjadi pelengkap busana penting yang tidak bisa diabaikan.

Islam melarang bermewah-mewah secara berlebihan, karena itu untuk seorang Sultan tradisi Bulungan, mahkota hanya digunakan dalam acara serimonial penting kenegaraan saja –penulis secara peribadipun tak pernah melihatnya walaupun dalam bentuk selembar foto-, disinilah peran songkok begitu penting mengganti mahkota pada kegiatan keseharian, Demikian juga para bangsawan, dalam sebuah foto dimasa Sultan Kasimuddin menjelaskan bagaimana songkok menjadi busana penting, di era Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin songkok bahkan nampaknya menjadi semacam identitas yang mewakili individu-individu tertentu khususnya para menteri yang berada disekitar beliau.

Datuk Laksamana Paduka Radja misalnya, Songkok khas hitam yang bergaris putih melintang adalah ciri dari beliau. begitupula salah seorang petinggi kesultanan Bulungan, terlihat menggunakan songkok dengan motif bertotol-totol menerupai kulit Harimau. Sultan Djalaluddin nampaknya lebih senang warna yang polos putih atau hitam, dalam sebuah foto lain beliau menggunakan peci hitam dengan sedikit renda yang umumnya sering dipakai masyarakat biasa.


Demikian pula jas, pakaian ini dalam bentuk awal mengacu pada bentuk Uniform atau pakaian resmi khusus Gubernur Hindia Belanda dengan sulaman berwarna keemasan, bentuk motif yang digunakan oleh Sultan Bulungan, tentunya tak sama dengan motif yang digunakan oleh Sultan Kutai, Sultan Sembaliung dan Sultan Gunung Tabur.

Uniform ini dalam sebuah foto nampaknya berawal dimasa Sultan Kaharuddin II, catatan sejarah menyebutkan bahwa dimasa tersebut kolonial belanda benar-benar masuk dan mencampuri kehidupan politik, budaya serta ekonomi kesultanan Bulungan, uniform yang kurang lebih sama juga digunakan oleh para sulta setelah beliau pun demikian juga dengan para menteri dan jajaran elit kesultanan Bulungan hanya saja yang tak berubah adalah penggunaan songkok yang tak pernah ketinggalan.

Penggunaan jas sendiri ada banyak macamnya, tentunya tak hanya uniform yang digunakan Setidaknya beberapa foto yang berhasil penulis kumpulkan menimbulkan kesilmpulan bahwa para sultan cukup terbuka dengan mode pakaian ala barat, menariknya walaupun cukup terbuka dalam hal tersebut, namun Belanda tidak benar-benar dapat membuat para sultan menjadi skuler, justru sebaliknya pendidikan agama Islam dijadikan penyaring terhadap budaya barat yang mencapai puncaknya diawal abad ke-20 dilingkungan istana Bulungan.


Hal yang lebih ketat terjadi lingkungan rakyatnya, kesultanan Bulungan memang teguh adat istiadat dan agama Islam sebagai landasan, itulah nampaknya belanda mengalihkan pusat keberadaan mereka lebih besar di kota Tarakan yang majemuk dan terdapat pusat-pusat pengeboran minyak sekaligus pusat pertemuan pemarintahan Hindia Belanda beserta angkatan bersenjatanya.

Epilog

Songkok dan jas merupakan bagian sejarah kesil di zaman kesultanan Bulungan yang terlewat dari padangan kita, padahal keduanya merupakan simbol dari nilai-nilai timur (Islam) dan barat yang coba disatukan sekaligus pula menjadi bentuk pertarungan abadi nilai-nilai budaya timur dan barat yang mewarnai sejarah panjang kesultanan paling dinamis di wilayah utara pantai timur kalimantan ini.

Sumber foto:

Museum Kesultanan Bulungan

Hikayat Penari Jugit Dari Bulungan


Hikayat Naga Dalam Cerita Lisan Orang Tidung dan Bulungan.

Memanen Sejarah Sarang Burung Walet Di Bulungan.


(Desain bubungan istana Bulungan yang unik ternyata menyimpan rahasianya tersendiri, satu lagi master piece Bulungan yang patut di kenang).

Siapa yang tak kenal sarang burung walet, di Bulungan sudah bejibun rumah-rumah walet di buat, maklum selain soal rasa, harga sarang burung walet memang menggiurkan, namun tahu kah kawan, dibalik cita rasanya sebagai barang mewah, ia juga punya sejarah panjang di Bulungan yang layak untuk kita dipanen.

Sekilas Sejarah Sarang Burung Walet Dalam Perdagangan Dunia.


Sarang burung walet, bukan barang baru dalam sejarah perdagangan dunia, bila merujuk catatan sejarah, sarang burung walet menjadi barang yang diperdagangkan dimasa Dinasty Tang (618-907 SM), iapun masuk dalam daftar menu wajib di istana.

Kemudian pada masa Dinasty Ming di tahun 1430, Zeng He alias Cheng Ho dikirim dalam sebuah muhibah resmi keberbagai negera melakukan misi diplomatik dan perdagangan, salah satu komuditi yang diperdagangkan adalah sarang burung walet.

“Berdasarkan catatan sekitar tahun 1587, China mengimpor sarang walet dalam jumlah besar dan mengenakan bea impor. Pada 1618, jumlahnya meningkat pesat karena adanya pengurangan bea impor yang diberikan kaisar dari Dinasti Ming. Pada waktu itu, sarang walet diterima dengan baik sebagai makanan berharga oleh penduduk Provinsi Guangdong dan Fujian,” tulis www.birdnestsoups.com

Jejak rekam sarang burung walet sendiri makin bersinar dengan adanya dua karya pengobatan yang mengharumkan namanya, dimasa Dinasti Qing akhir abad ke-17, karya tersebut tak lain adalah: Ben Cao Bei Yao (Catatan-catatan Penting tentang Bahan Obat-obatan) karya Wang pada 1694 dan Ben Cao Feng Yuan (Bahan Obat-obatan di Alam Terbuka) karya Zhang pada 1695. Orang China percaya sarang burung walet punya daya penyembuh untuk beragam penyakit seperti TBC, sakit lambung, dan perdarahan paru-paru. Ia juga dianggap mampu meremajakan kulit atau memperlambat proses penuaan. Inilah sebabnya Sarang burung walet menjadi mahal karena khasiat yang dimilikinya, mereka sendiri menyebut sup sarang burung tersebut dengan nama Cia Po.

Dimasanya makanan ini menjadi barang mewah, itulah sebab tak semua dapat mengkonsumsinya, walaupun demikian permintaan ekspor impor China yang merupakan konsumen terbesar didunia juga ternyata tidak surut, inilah yang nampaknya membawa berkah bagi perdagangan sarang burung walet di nusantara, apa lagi menu sarang burung walet ternyata telah merata dikonsumsi para penguasa baik di wilayah selatan China seperti provinsi Guangdong dan Fujian, tren yang sama juga terjadi di luar wilayah kekaisaran China.

Kualitas sarang walet ditentukan oleh lingkungan alam dan kondisi gua. Tapi yang terpenting, waktu pengambilan sarang itu sendiri. Sarang terbaik adalah yang didapat dari gua lembab yang dalam dan diambil sebelum burung walet bertelur. Sedangkan yang terjelek, setelah walet muda berbulu. Warna sarang terbaik adalah putih, minim warna gelap, tak tercampuri darah dan bulu. Burung walet umumnya tinggal dan beranak-pinak di gua-gua dekat laut, jauh dari jangkauan manusia. Ada juga walet yang memilih gua-gua pedalaman, termasuk di gua-gua pegunungan kapur.

Menurut Kong et al. (1987), sarang walet yang dapat dikonsumsi oleh manusia berasal dari sarang yang dibuat dari air liur burung walet sarang putih (collocalia fuciphaga) dan burung walet sarang hitam (collocalia maxima) yang mengandung epidermal growth factor (egf). Sampai kini, harga sarang walet putih lebih mahal daripada sarang walet hitam.

Hikayat Sarang Burung Walet Dalam Lintasan Sejarah Bulungan.


Kapan sebenarnya perdagangan sarang burung walet di Bulungan?, tak dapat dijawab dengan pasti, namun melihat arus kuno rute perdagangan yang disinggahi para pedagang China seperti kepulauan Sulu, Laut China Selatan (sekitar Brunai) dan Selat Makassar yang pada dasarnya melalui Bulungan, maka sangat mungkin usia perdagangan sarang burung ini sudah sangat tua.

Menariknya sarang burung walet yang juga disebut lubang batu dalam istilah setempat khususnya dikawasan pantai timur kalimantan ini nampaknya mempunyai makna lebih dari tersekedar barang dagangan, lebih jauh ia sudah masuk dalam ranah politik.

Bahkan hikayat yang diceritakan oleh Johansyah Balham dalam rubrik Khas Kaltim B-Magezine menyebutkan bahwa seorang raja Kutai pernah memimpin penyerbuan terhadapat sebuah kerajaan kecil yang tak jauh dari wilayah kekuasaannya karena tergoda dengan kepemilikan sarang-sarang Burung walet yang menyebabkan kekayaan melimpah raja kecil tersebut.

Di masa kesultanan Bulungan, sarang burung walet juga memiliki rekaman sejarah panjang, beberapa kisah menyatakan bahwa Sultan membagi-bagikan kawasan lubang batu atau sarang burung walet kepada para bangsawan untuk menjamin kesetian mereka demi mewujudkan stabalitas kerajaan.

Yang lebih menarik lagi, menurut cerita yang disampaikan oleh Datuk Krama, salah seorang sepuh di kampung Tanjung Palas secara tak sengaja berjumpa dengan saya di warung kopi dekat kawasan Museum Bulungan.

Datuk Krama menceritakan pada saya bahwa desain istana Kesultanan Bulungan yang bertingkat dua itu, mempunyai fungsi untuk mengembang biakan sarang burung walet, itulah sebab bentuk atap istana yang khas dekat bubungan dimaksudkan sebagai jalan masuk bagi burung-burung walet yang pergi di pagi hari dan kembali menjelang sore, rungan itu gelap. Ada ruangan yang terletak disudut belakang yang digunakan jalan masuk dan keluar manusia untuk mengambil sarang burung walet tersebut. Kisah ini diaimini oleh salah seorang tua yang mengaku sewaktu kecil sering melihat pemandangan keluar masuknya burung-burung walet melalui bubungan istana tersebut.

Sejauh yang penulis ketahui, sarang burung walet memang menjadi salah satu komuditi ekspor penting khususnya pada abad ke-19. Di pantai timur, pelabuhan Samarinda misalnya menjadi salah satu pelabuhan yang didatangi. Kita beruntung J. Zwager, salah seorang Asisten Residen Belanda di Borneo Timur meninggalkan menuskrip berharga berupa laporan perdagangan di tahun 1853 yang bersisi barang-barang yang diperjual belikan lengkap dengan daftar harganya.

Sarang burung walet dalam catatan J. Zwager dibagi dalam dua jenis yaitu putih dan hitam serta dibagi lagi dalam beberapa jenis dengan daftar harga yang berbeda-beda seperti berikut:

Sarang Burung Walet Putih Jenis 1: f 10.—f.12.- per kati
Sarang Burung Walet Putih Jenis 1: f 40.—f.50.- per kati
Sarang Burung Walet Putih Jenis 2 : f 25—f.30.- per kati
Sarang Burung Walet Putih Jenis 3 : f 15—f.20.- per kati
Sarang Burung Walet Hitam Jenis 1: f 250—f.350 per 120 kati
Sarang Burung Walet Hitam Jenis 2: f 100—f.200 per 120 kati
Sarang Burung Walet Hitam Jenis 3: f 80 —f.100 per 120 kati.


Bila melihat daftar diatas nyatalah harga sarang burung walet putih dengan kulitas kelas satu mampu mengungguli sarang burung walet hitam walaupun memiliki kualitas yang sama. Hal inilah yang menjadi penyebab mengapa sarang burung walet menjadi rebutan, bukan hanya pada tingkat pasar tapi juga ketingkat istana, tidak hanya itu sarang burung walet juga telah lama menjadi incaran para perompak maupun perampok, bahkan sejak masa perdagangan kuno terjadi di pantai timur kalimantan ini.

Harga sarang burung walet sampai hari ini bahkan tak pernah mengalami penurunan, ini menarik, sebuah situs internet yang saya baca memuat catatan perkembangan sarang burung walet dalam harga pasaran. Pada tahun 1999 saja data penjualan sarang burung walet mencapai kisan harga yang pantastis. Misalnya harga sarang walet yang dihasilkan dari goa-goa alam di Desa Suwaran, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Untuk sarang walet putih seharga Rp 10 juta/kg dan walet sarang hitam seharga Rp 1,5 juta/kg (Solihin dkk., 1999: 61). Sedangkan, harga tertinggi sarang walet putih mencapai US$ 2,500/kg atau setara dengan Rp 25 juta/kg. (dihimpun dari berbagai sumber).

Menerangi Sejarah Kelistrikan Di Bulungan (1925-1964)


(Logo perusahaan Ruston, namanya sempat menjadi legenda di Bulungan)

Listrik sudah merupakan hal yang amat diakrapi dalam kehidupan masyarakat kita saat ini. Tak lengkap rasanya jika tidak ada listrik di rumah, bukan hanya sekedar untuk penerangan, listrik juga digunakan urusan bisnis dan menghidupkan barang elektronik, maka jangan heran jika banyak yang mengeluh jika terjadi gangguan listrik, kegiatan rumah tangga dan industri bisa terganggu.

Namun pernah kah kita bertanya, bagaimana asal mula keberadaan Listrik di Bulungan? Percaya atau tidak listrik sebagai penerangan mempunyai hikayat yang panjang dimasa lampau, bicara soal listrik, maka tak lengkap bila kita tidak mengupas soal Ruston, legenda kelistrikan bulungan yang coba penulis hidupkan kembali sejarahnya.

Ruston dan Sejarah listrik di zaman Kesultanan Bulungan.


Apa itu Ruston? Mungkin bagi sebagian orang, Ruston adalah nama yang asing, namun dimasa lampau Ruston merupakan salah satu legenda sejarah yang sejujurnya masih dbicarakan oleh sebagian kecil orang-orang tua di Tanjung Palas demi mengenang keberadaannya. Ruston tak lain adalah mesin pembangkit listrik pertama dalam sejarah Bulungan.


(Ilustrasi mesin pembangkit listrik Ruston, bentuk yang kurang lebih sama dengan ada di Tanjung Palas tempo dulu)

Mesin-mesin listrik di bulungan dimasa lampau menggunakan merk produksi Ruston, itulah sebabnya mesin tersebut dikenal dengan nama tersebut. Nama Ruston yang melegenda itu sendiri diambil dari perancang dan pendiri pabrikanya Joseph Ruston.

Titik penting kemajuan raksasa industri Ruston nampaknya dimulai Pada tanggal 11 September 1918, perusahaan digabung dengan Richard Hornsby & Sons. Hornsby adalah pemimpin dunia dalam mesin minyak berat, yang telah berkarya sejak 1891, delapan tahun penuh sebelum Rudolph Diesel memproduksi mesin disel secara komersial.

Kapan mesin-mesin pembangkit listrik buatan Ruston masuk ke Bulungan? Dalam catatan sejarah, penggunaan listrik mulai masuk dan berkembang dimasa Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, Sultan melakukan program listrik murah di seluruh Tanjung palas, listrik-listrik di sambung ke rumah-rumah penduduk dengan bayaran yang miring. Mesin-mesin ini nampaknya dibawa bersamaan dengan kemajuan industri minyak di Tarakan sebelum perang pasifik pecah.


(Perhatikan tiang listrik di dekat istana, pemandangan seperti ini dulu lazim ditemukan, untuk saat ini ting listrik zaman kesultanan Bulungan sudah tidak ada lagi. Galeri foto: www.bulungan.go.id)

Menurut kisah yang dituturkan penduduk setempat, Basran Umar 53 th, ia menceritakan dahulu “neneknya”, Abdul Rasyid sempat mengoperasikan mesin-mesin berat tersebut dibantu dua orang pegawainya.

Mesin Ruston di Bulungan, tambahnya terdiri dari dua buah, ukurannya sangat besar dan bentuk bagunannya menyerupai leter “L”, jangkauan mesin ini sendiri, hampir mengkover seluruh tanjung palas saat itu, jarak jangkauannya jika ke tanjung Palas Ulu hampir mendekati jalan trans kaltim atau jembatan tanjung palas saat ini, sedangkan ke arah tanjung Palas Hilir menjangkau hingga daerah pabrik dekat daerah lebong sekarang, bahkan konon hingga dekat daerah karang anyar.

Ruston masih dioperasikan setelah kemerdekaan, jasa sangat besar untuk memajukan taraf hidup penduduk saat itu, bisa dikatakan jaman dahulu Ruston merupakan ikon penting kemajuan kota Tanjung Palas. Jalan-jalan di tanjung palas terang benderang dengan lampu-lampu neon di sepanjang jalan, konon Tanjung Selor sendiri masih belum merasakan kemewahan ini, tentunya jadi kenangan manis bagi yang merasakannya.


(Sisa-sisa kejayaan Ruston yang terlupa oleh kita)

Sayangnya nasib Ruston yang legendaris itu ternyata tak semanis namanya besarnya, pada saat istana Bulungan jatuh dalam huru-hara tahun 1964, Ruston mengalami kerusakan parah, hampir-hampir tak dapat difungsikan, saking sulitnya dihancurkan, mesin-mesin raksasa ini konon harus dirusak dengan air raksa oleh pihak yang tak bertanggung jawab.

Bak jatuh tertimpa tangga, Ruston akhirnya hanya menjadi kenangan yang nyaris terlupakan, terlebih setelah sisa-sisa bagkainya dilego menjadi besi tua, setelah itu Ruston seakan hilang dalam ingatan sejarah Bulungan.

Sisa-Sisa Kejayaan Ruston Yang Terlupakan.

Saya pikir tak ada salahnya jika saya harus berterimaksih dengan salah seorang sahabat saya Datuk Isa Anshari, sebab dari dialah saya mengenal Ruston pada awalnya.

Saat pertama kali saya mendekati puing-puing bangunan Ruston, ada rasa takjub dalam diri saya, bagaimana tidak, mendekati umur setengah abad bangunan itu di hancurkan, namun pondasinya masih sangat kokoh, seolah saya menemukan sisa-sisa reruntuhan benteng kuno.


(Tangga di salah satu sisi reruntuhan)

Kualitas bangunan betonnya memang nomor wahid, ketebalan pondasi dan luas ukurannya, membuat saya dapat menimbang betapa besar dan beratnya mesin-mesin raksasa tersebut. Saya tak habis pikir mengapa bagunan seindah ini luput dari perhatian.

Walaupun tak digubris waktu, reruntuhan Ruston ini masih menyimpan Aura kemegahannya, ada tangga disisi bangunan, mungkin dahulu pintu masuknya dari situ, pun demikian dengan tempat pemutar roda-roda raksasa, masih ada disitu, sedikit terendam air hujan, demikian pula dengan beberapa baut-baut besi yang sudah berkarat, dengan sedikit sisa nafas, Ruston ternyata masih mampu menceritakan kisahnya pada saya.


(Bekas landasan roda-roda raksasa Ruston, tergenang air dan kurang terawat)

Tak dapat saya pungkiri dibalik ketakjupan saya pada sisa-sisa reruntuhan Ruston, ada sedikit rasa sedih di hati saya, Sebab Ruston tak seperti Warmound yang selalu dikenang, Ruston terlupakan oleh kita dan waktu, sama seperti waktu yang sudah mengaratkan sisa-sisa besi yang terongkok lesu disitu, disinilah awal dan berakhir kisah Ruston yang legendaris itu. (ditambah dari berbagai sumber).